KONSEP MANUSIA DAN TUHAN

KONSEP MANUSIA DAN TUHAN

KONSEP MANUSIA DAN TUHAN

Penulis : Muhammad Rohmadin

MANUSIA : Makhluk Teomorfis


Pada saat kita membicarakan manusia sebagai mikrokosmos, manusia mengandung semua unsur kosmik dari hal mineral, tumbuhan, hewan dan malaikat, Namun dari hal seperti itu manusia memiliki nilai ilahi didalam dirinya. Yang biasanya disebut “ilahut” tentunya disamping unsur kemanusian yang disebut “nasut”. Nabi Adam, sebagai nenek moyang manusia, telah dikarunia, dengan ditiupkan kepadanya, sesuatu yang bersifat rohani dari Tuhan. Maka dengan itu dengan itu ruh yang ada pada manusia bisa dikaatakan sebagai “unsur” ilahi yang ada pada dirinya, sebagaimana unsur akal adalah nilai-nilai malaikat yang ada pada dirinya. Itulah sebabnya, barangkali mengapa manusia oleh S.H. Nasr disebut “ Makhluk Teomorfis”. Yaitu mahkluk yang memiliki bentuk atau rupa Ilahi.


Dalam literatur Sufi bahwasanya sering kita jumpai ungkapan atau cerita yang menggambarkan kedekatan sifat manusia dengan sifat-sifat atau bahkan “bentuk” Tuhan. Dikalangan para Filsuf Muslim, banyak yang berkata bahwasanya tujuan berfilsafat adalah “berusaha menjadi seperti Tuhan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Apakah mungkin manusia menyerupai seperti Tuhan.? Jawabanya Ya, tapi bukan pada dalam esensi (dzat), melainkan sifat-sifat-Nya. Salah satu upaya untuk merealisasikan potensi-potensi ilahiyah yang ada pada diri manusia tersebut, para sufi menyelenggarakan program pembersihan jiwa (takziyatu al-nafs), berdasarkan keyakinan bahwa sifat-sifat terpuji Tuhan akan menggantikan sifat-sifat manusia mampu membersihkan dirinya dari segala kotoran nafsu rendah atau hewan. Penyucian diri ini biasanya dimulai dengan tahap pembersihan diri atau pengosongan diri dari sifat-sifat buruk. Yang disebut “takhalli”.


Sistem lain dari pembersihan jiwa adalah melalui proses pembersihan, realisasi diri (tahhaqquq) dan peniruan sifat-sifat atau karakter (akhlak) Tuhan oleh manusia (takhalluq). Seperti fungsi takhalli, tathahur juga berfungsi untuk membersihkan jiwa manusia dari segala kotoran hawa yang, kalau dibiarkan, tentunya akan sangat kuat mengahalangi perealisasian-diri. Namun, realisasi-diri ini akan tercapai hanya apabila kita mampu mencerap akhlak atau sifat-ssifat Tuhan ke dalam diri kita, yang dieprealisasikan dalam istillah “takhalluq”.


Mulyadi Kartanegara sependapat dengan al-Kindi mengenai hierarki wujud Tuhan yang memandang wujud Tuhan sebagai sebab pertama (al-‘illah al-ûlậ). Sebagai sebab pertama. Dia menjadi sebab bagi keberadaan wujud yang lain, termasuk alam materil ini (bumi) adalah akibat-akibatnya. Jika dilihat dari sudut ontologis. Tuhan sebagai sebab pertama tertentu lebih utama dibandingkan status ontologis alam fisik, karena posisi tuhan sebagai sebab atau sumber. Sedengkan alam materiil hanyalah sebagai akibat atau derivate dari Tuhan. Tentu status sebab akan lebih tinggi dibandingkan akibatnya karena sebab bisa dibayangkan adanya walaupun tidak ada akibatnya. Mulyadi kartanegara mengatakan Tuhan sebagai wajib al-wujud lebih tinggi derajatnyya dan status ontologisnya oleh pemikir barat, padahal posisinya ia hanya sebatas akibat, apalagi status ontologis Tuhan yaitu satu-satunya sebab awal keberadaan alam semesta.


Bagi saya, Tuhan adalah prinsip asal dari segala yang ada (mawujjud) dan Dia waib adanya (Wajib al-wujud). Sedangkan selain-Nya, yang biasa disebut alam atau makhluk, hanyalah mungkin adanya (mumkin al-wujud). Bukti keberadaan Tuhan adalah fakta bahwa alam ini ada. Alam bersifat mumkin keberadaannya karena tersusun dari unsur-unsur tunduk pada generasi dan korupsi (dalam pengertian Aristotelian). Dengan demikian pada dirinya alam bersifat potensial dan akan terus dalam keadaan potensi, seandainya tidak ada agen yang senantiasa actual (Wajib al-Wujud dalam pengertian Avicennian) ysng membawa potensi kedalam aktualitasnya. Agen yang senantiasa actual inilah yang kita sebut Tuhan atau Allah.


Bagi pak Mulyadhi Kartanegara bukan Tuhan yang telah bertanggung jawab atas keteraturan alam, tetapi adalah hokum alam itu sendiri. Jadi Tuhan telah diberhentikan sebagai pemeliharaan dan pengatur alam.


Mengenai manusia Prof Mulyadhi Kartanegara manusia juga memiliki jiwa rasional yang hanya dimiliki oleh bangsa manusia saja. Jiwa rasional ini memungkinkan manusia mampu mengambil premis-premis rasional yang berguna unuk membimbing, mengatur, dan menguasai daya-daya dari jiwa yang rendah. Dengan demikian, manusia inti dari alam semesta, dan tidak heran kaum bijak menyebutkanya manusia sebagai mikroksmos karena mengandung semua unsur yang terdapat dalam makrokosmos (alam semesta). Manusia menempati posisi yang istimewa karena manusia dikarunia ruh oleh Allah Swt yang menjadikan manusia memiliki dua dimensi yang membentuk sebuah entitaas diri (Al-Nafs).


 Pandangan mengenai aspek tasawuf pak Mulyadhi berpotensi untuk menyembuhkan penyakit manusia modern tersebut. Secara potensial maupun aktual, tasawuf dapat mengarahkan manusia modern yang telah kehilangan orientasi dan memberikan pengertian komperenshif tentang siapa manusia itu sesungguhnya. Sedangkan Krisis ekologis, tasawuf dapat matimengajarkan bahwa alam bukanlah objek mati yang bisa dieksploitasi semaunya tanpa hormat, melainkan alam adalah makhluk hidup yang dapat memiliki kemampuan mencintai dan dicintai, maka tasawuf bisa dijadikan sarana bagi pencerahan akan hakikat alam semesta, sehingga manusia memperlakukannya secara santun dan penuh cinta.


Kesimpulan


Bahwasanya Manusia adalah tentang takdir, berbekal dalam pandangan manusia sebagai mikrokosmos, manusia mengandung semua unsur kosmik dari hal mineral, tumbuhan, hewan dan malaikat, Namun dari hal seperti itu manusia memiliki nilai ilahi didalam dirinya. Yang biasanya disebut “ilahut” tentunya disamping unsur kemanusian yang disebut “nasut”. Dari posisi kebebasan manusia sebagai mahkluk yang berdaya dan berakal.


Mengenai Tuhan bahwasanya prinsip asal dari segala yang ada (mawujjud) dan Dia waib adanya (Wajib al-wujud). Sedangkan selain-Nya, yang biasa disebut alam atau makhluk, hanyalah mungkin adanya (mumkin al-wujud). Bukti keberadaan Tuhan adalah fakta bahwa alam ini ada.


Manusia dan mempunya entitas yang sama dan mempunyai entitas yang berbeda, yang sama adalah dari sifat-sifat Tuhan, seperti kebaikan, mahan pemurah, penolong dan lainnya, Manusia ampir meilikinya walaupun sifat Tuhan lebih luas jangkauannya dibandingkan manusia. Tapi entitas yang berbeda dari segi dzatnya bahwasanya manusia sebagai ciptaanya sedankan Tuhan sebagai sang pencipta.


LihatTutupKomentar